Jumat, 30 September 2011

Kelebihan Lemak pada Lansia Membuat Kakinya Jadi Lemah

Menjaga berat badan selalu normal hingga usia lanjut nampaknya menjadi keharusan. Sebuah penelitian menemukan orang lanjut usia (lansia) yang punya kelebihan berat badan (obesitas) memiliki kaki yang lemah.

Penelitian yang dilakukan University of New Hampshire menemukan jika dinilai dari kekuatan kaki untuk menopang berat tubuh, kaki wanita lansia yang mengalami obesitas jauh lebih buruk dibandingkan dengan wanita yang memiliki berat badan normal. Hasil penelitian tersebut bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan lansia kurus mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi untuk menjadi cacat karena kehilangan massa <a href="/2011/09/6-makanan-pembangun-otot.html">otot</a>.

Kaki yang menopang tubuh yang mengalami obesitas akan membuat kerusakan yang lebih banyak dan lebih cepat pada kaki. Kerusakan ini karena kaki menopang tubuh yang mengalami obesitas yang dapat berkembang menjadi sebuah kecacatan. "Dua pertiga orang Amerika telah mengalami obesitas, sedangkan jumlah lansia diperkirakan akan meningkat menjadi 2 kali lipat pada tahun 2030. Hal tersebut berarti sebagian besar penduduk Amerika berisiko cacat akibat hilangnya massa otot," kata Dain LaRoche, seorang asisten profesor kinesiology yang juga merupakan salah seorang peneliti seperti dilansir dari MedicineNet, Kamis (29/9/2011).

Hasil penelitian yang disampaikan oleh para peneliti tersebut, antara lain:

1. Dibandingkan dengan <a href="/2011/09/nikahi-pria-seumuran-buat-wanita.html">wanita </a>lansia yang memiliki <a href="/2011/09/tips-jaga-berat-badan-saat-berhenti.html">berat badan</a> normal, wanita lansia yang mengalami obesitas memiliki kekuatan kaki yang lebih rendah sekitar 24 persen.

2. Kekuatan kaki untuk menopang berat tubuh pada wanita lansia yang mengalami <a href="/2011/08/waspadalah-gemuk-di-perut-beresiko.html">obesitas</a> berkurang sekitar 38 persen jika dibandingkan dengan wanita lansia yang memiliki berat badan normal.

3. Wanita lansia yang mengalami <a href="/2011/08/memprediksi-risiko-kematian-orang-gemuk.html">obesitas</a> dapat berjalan 20 persen lebih lambat jika dibandingkan dengan wanita lansia yang memiliki berat badan normal.

"Hasil penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa, kelebihan lemak menyebabkan seseorang mempunyai mobilitas yang lebih terbatas," kata LaRoche. Memiliki berat badan yang normal memungkinkan seseorang dapat melakukan aktivitas di kehidupan sehari-hari dengan lebih baik dan lebih bugar. LaRoche juga mengatakan bahwa, seiring bertambahnya usia sebaiknya seseorang tetap menjaga berat badannya dalam kategori normal.

Menjaga berat badan tetap dalam kategori normal tersebut akan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran. "Lansia yang mengalami kelebihan berat badan dapat meningkatkan kekuatan mereka jika mereka melakukan upaya untuk menurunkan berat badannya," ujar LaRoche.
Hasil penelitian tersebut akan diterbitkan dalam Journal of Electromyography and Kinesiology edisi bulan Oktober 2011.


Detik.com

Kamis, 29 September 2011

Malaria Menyerang Sel Darah Merah

Malaria adalah penyakit menular akibat infeksi parasit plasmodium yang menyerang sel darah merah.

Terdapat empat jenis plasmodium yang mampu menginfeksi manusia yaitu plasmodium vivax, malariae, ovale dan falciparum. Plasmodium falciparum paling berbahaya dan dapat mengancam nyawa.

Saat menyerang manusia, parasit plasmodium malaria berbentuk sporozit, yang selanjutnya akan menuju hati melalui peredaran darah dan menjadi dewasa di tempat itu. Setelah dewasa, parasit itu akan menyerang sel darah merah.

Pada saat itu gejala malaria mulai muncul. Bila orang tersebut digigit oleh nyamuk anopheles lagi, parasit yang ada dalam sel darah merah orang itu akan masuk kembali ke tubuh nyamuk dan berkembang biak di sana. Begitulah siklus tersebut terjadi berulang ulang.

Gejala penyakit itu antara lain demam tinggi, perasaan dingin atau kaku pada seluruh tubuh, gemetar, keluar keringat berlebihan, lemas, lelah, sakit kepala, mual, dan muntah. Jika tidak diobati, penyakit malaria dapat menyebabkan kematian.

Malaria dapat dicegah dan diobati. Pencegahan malaria dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk, misalnya tidur dengan kelambu. Hindari keluar rumah pada malam hari tanpa menggunakan pelindung karena pada malam hari nyamuk biasanya bersifat lebih aktif.

Jika akan bepergian ke daerah yang sedang terjadi kasus malaria, sebaiknya meminta obat antimalaria dari dokter untuk mencegah penularan.

Untuk pengobatan malaria, pemerintah mengeluarkan kebijakan penggunaan obat kombinasi yang dapat diperoleh di Dinas Kesehatan dan Puskesmas secara gratis.

"Tidak lagi menggunakan obat tunggal seperti klorokuin tapi harus kombinasi untuk mengobati malaria. Obat yang digunakan adalah `Artemisinin Combination Therapy (ACT)," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Drg. Tritarayati.

Tritarayati mengatakan, sejak 2008 kebijakan program pengobatan malaria tidak menggunakan obat tunggal seperti klorokuin tetapi menggunakan obat kombinasi ACT untuk semua jenis plasmodium sesuai dengan keputusan Menkes.

Perubahan kebijakan penatalaksanaan kasus malaria itu dilakukan karena pada 1973 ditemukan kasus resistensi klorokuin terhadap plasmodium falciparum" di Kalimantan Timur.

Pada 1990 kasus resistensi terhadap klorokuin dilaporkan terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, selain itu juga dilaporkan resistensi plasmodium falciparum terhadap "Sulfadoksin-Pirimetamin" (SP) di beberapa tempat di Indonesia.


Sumber: SehatNews.com

Selasa, 27 September 2011

Sarang Semut Obat Tumor dan Jantung?

Sarang SemutInilah sarang semut yang diakui banyak memiliki manfaat. Sarang semut yang berasal dari benalu pohon besi ini diklaim dapat menyembuhkan berbagai penyakit, dari penambah stamina hingga obat penyakit stroke. Photo: remigius septian

Tahukah Anda bahwa Sarang Semut atau Myrmecodia saat ini mulai dikenal luas sebagai obat untuk penyembuhan penyakit kanker dan tumor serta berbagai jenis penyakit lainnya seperti jantung? Obat jenis herbal yang semula banyak digunakan warga Papua, kini meluas pemakaiannya hingga ke Jawa dan pulau lainnya di Indonesia.

Menurut Mohammad Noer atau Nuno (33), warga Salemba, Jakarta Pusat, peredaran tumbuhan sarang semut masih terbatas. "Di Pulau Jawa paling tak kurang dari lima penjual. Saya dan agen lainnya seperti di Yogyakarta," ujar Nuno, yang hampir dua tahun ini menjual Sarang Semut sebagai opsi pengobatan herbal bagi penyakit kanker dan tumor serta jantung. Nuno menjelaskan, Sarang Semut adalah satu dari banyak tumbuhan obat yang banyak tumbuh di daerah Papua. Myrmecodia adalah keluarga tumbuhan semut yang banyak tumbuh di Asia Tenggara.

Tumbuhan sarang semut adalah jenis tumbuhan epifit, tumbuh di cabang dan batang pohon lain yang lebih besar. Akan tetapi, tidak hidup secara parasit yang menghisap makanan dari inangnya, melainkan hanya sebagai tempat menempel, menumpang untuk tumbuh. Ada beragam tumbuhan epifit lainnya seperti lumut kerak, alga, lumut, anggrek dan lainnya. "Yang diminum adalah air rebusan dari Sarang Semut, yang masih berwarna merah. Kalau sudah bening, berarti potongan Sarang Semutnya tidak bisa digunakan lagi," tambah Nuno yang menjual Sarang Semut seharga Rp 60.000 per kantong plastik.

Mengutip penelitian sejumlah pakar kesehatan dan obat-obatan, Nuno mengatakan Sarang Semut memiliki khasiat ampuh untuk mengobati kanker, tumor dan jantung. "Majalah Nirmala, edisi Juli 2006 memuat komentar bahwa masyarakat daerah Wamena suka menggunakan sarang semut untuk menyembuhkan rematik dan asam urat," ujar Nuno, yang membuat situs kajuali.com. untuk mengenalkan produknya.

Adapun, pakar bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), lanjut Nuno, Sarang Semut disebutkan mengandung flavanoid, tannin dan polifenol. Ketiga zat ini adalah bagian dari antioksidan penghalang pertumbuhan sel kanker dan penyakit jantung. Zat-zat ini adalah antioksidan kuat-- beberapa kali lebih kuat dari vitamin C dan E sehingga memberikan efek menurunkan risiko beberapa jenis kanker dan penyakit kardiovaskuler. Bahkan tanaman ini terbukti juga mengobati diare dan menghentikan pendarahan. Selain itu Sarang Semut bisa menghambat enzim xanthine oxidase yang berkhasiat menurunkan asam urat dan memperbaiki fungsi ginjal.

Kompas.com