Tampilkan postingan dengan label Penyakit Paru-Paru dan Saluran Pernapasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Paru-Paru dan Saluran Pernapasan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Agustus 2010

Displasia Bronkopulmoner

DEFINISI
Adalah cedera pada paru-paru akibat terapi oksigen dengan konsentrasi tinggi dan pemakaian ventilator. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi prematur.


PENYEBAB
Displasia bronkopulmoner terjadi pada bayi yang mendapat ventilator dan terapi oksigen konsentrasi tinggi dalam jangka panjang. Pemberian terapi oksigen konsentrasi tinggi ini sebenarnya bertujuan untuk mengobati sindrom gawat pernafasan pada bayi baru lahir. Cedera paru-paru ini bisa disebabkan oleh meningkatnya tekanan dalam paru-paru karena ventilator mekanik atau karena keracunan oksigen yang terjadi akibat paparan oksigen dalam konsentrasi tinggi dan jangka panjang.


GEJALA
- Nafas cepat
- Warna kulit kebiruan
- Sesak nafas


PENANGANAN
Ventilator biasanya diperlukan untuk memberikan tekanan pada paru-paru agar jaringan paru mengembang dan memberi oksigen tambahan. Jika bayi sudah dapat menyesuaikan diri, maka tekanan dan konsentrasi oksigen akan dikurangi secara bertahap. Bayi bisa saja meninggal.

Pada bayi yang selamat, gangguan pernafasan akan hilang perlahan. Meski demikian, pada tahun-tahun pertama, bayi tersebut memiliki risiko tinggi terkena pneumonia. Pencegahan Untuk mencegah terjadinya displasia bronkopulmoner, sebaiknya alat bantu pernafasan dilepaskan secepat mungkin atau pemakaiannya dipersingkat.

Kamis, 25 Maret 2010

Pneumonia Pneumokistik (Pneumokistosis)

DEFINISI
Pneumonia Pneumokistik (Pneumokistosis) adalah suatu infeksi paru-paru akibat jamur yang bernama Pneumocystis carinii.


PENYEBAB
Pneumocystis Carinii adalah organisme yang biasa hidup di paru-paru normal dan tidak menimbulkan gejala. Tetapi pada orang-orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akibat kanker, HIV/AIDS, pencangkokan sumsum tulang maupun organ padat dan pada orang-orang yang menggunakan kortikosteroid dalam jangka panjang atau obat-obatan lainnya yang mempengaruhi sistem kekebalan, jamur tersebut bisa menyebabkan terjadinya infeksi paru-paru.

Lebih dari 80% penderita AIDS yang tidak mendapatkan pengobatan pencegahan standar, suatu saat akan menderita penyakit ini. Pneumokistosis seringkali merupakan tanda pertama yang menunjukkan bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS. Pada penderita AIDS, pneumokistosis biasanya memiliki perjalanan penyakit yang lebih lambat, yaitu batuk, demam dan sesak nafas selama berminggu-minggu. Sedangkan pada non-penderita AIDS, perjalanan penyakit ini biasanya lebih singkat dan sifatnya lebih akut.


GEJALA
Kebanyakan penderita akan merasakan demam, sesak nafas dan batuk kering. Paru-paru tidak dapat menyalurkan oksigen dalam jumlah yang memadai ke dalam darah sehingga timbul sesak nafas yang berat. Sesak terutama timbul setelah penderita melakukan aktivitas.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap dahak yang diperoleh melalui salah satu dari kedua cara berikut:
- Induksi dahak (menggunakan air atau uap air untuk merangsang batuk)
- Bronkoskopi (memasukkan sebuah alat ke dalam saluran pernafasan untuk mengambil dahak).

Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dillakukan:
  • Rontgen dada
  • Biopsi paru-paru (jarang dilakukan)
  • Analis gas darah (bisa menunjukkan adanya penurunan kadar oksigen dalam darah).

PENGOBATAN
Antibiotik yang biasa digunakan adalah trimethoprim-sulfametoxazole, yang bisa diberikan per-oral (melalui mulut) maupun melalui infus, tergantung kepada beratnya penyakit. Efek samping berupa kemerahan, berkurangnya jumlah sel darah putih dan demam, biasanya ditemukan pada penderita AIDS.

Pengobatan pilihan lainnya adalah:
- dapson dan trimethoprim
- clindamycin dan primakuin
- trimetrexat dan leukovorin
- atovakuon
- pentamidin.

Corticosteroid bisa diberikan kepada penderita yang memiliki kadar oksigen yang rendah. Meskipun diobati, angka kematian mencapai 10-30%. Penderita AIDS yang telah berhasil diobati, biasanya mendapatkan pengobatan seperti trimethoprim-sulfametoxazole atau pentamidin aerosol, untuk mencegah terjadinya kembali penyakit ini.


PENCEGAHAN
Kepada penderita AIDS, pengguna kortikosteroid dosis tinggi jangka panjang dan kepada orang-orang yang pernah menderita pneumokistosis, dianjurkan untuk menjalani terapi profilaksis (pencegahan). Yang paling efektif adalah trimethoprim-sulfametoxazole, tetapi bisa juga diberikan dapson, atovakuon atau pentamidin.

Pneumonia Atipik (Walking Pneumonia)

DEFINISI
Pneumonia Atipik (Walking pneumonia) adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh organisme selain bakteri, virus atau jamur; yang paling sering adalah Legionnale pneumophila, Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia pneumoniae. Biasanya pneumonia atipik merupakan bentuk pneumonia yang lebih ringan, kecuali jika penyebabnya adalah Legionnale (dimana penyakitnya bisa cukup berat dengan angka kematian yang tinggi).

Wabah penyakit ini terjadi terutama pada kelompok yang terbatas seperti murid sekolah, anggota militer dan keluarga. Wabah cenderung menyebar secara perlahan karena masa inkubasinya berlangsung antara 10-14 hari. Pneumonia atipik lebih banyak ditemukan pada musim semi.


PENYEBAB
Organisme serupa bakteri, yaitu mikoplasma dan klamidia. Pneumonia atipik yang disebabkan oleh mikoplasma dan klamidia biasanya menyebabkan bentuk pneumonia yang lebih ringan dan ditandai dengan perjalanan penyakit yang lebih berlarut-larut (berkepanjangan).

Pneumonia mikoplasma seringkali menyerang usia muda dan bisa menimbulkan gejala diluar paru-paru (misalnya anemia dan ruam kulit) serta sindroma neurologis (misalnya meningitis, mielitis dan ensefalitis). Bentuk pneumonia mikoplasma yang erat telah ditemukan pada semua kelompok umur. Pneumonia klamidia terjadi di sepanjang tahun dan merupakan 5-15% dari seluruh kasus pneumonia. Biasanya penyakitnya ringan, dengan angka kematian yang rendah.

Faktor resiko terjadinya pneumonia atipik:
  • Lanjut usia
  • Perokok
  • Penderita penyakit menahun
  • Penderita gangguan sistem kekebalan.

GEJALA
Gejalanya bisa berupa:
- Menggigil
- Demam
- Batuk (bisa kering atau berdahak)
- Sakit kepala
- Otot terasa sakit dan kaku
- Pernafasan cepat
- Sesak nafas
- Nafsu makan berkurang
- Merasa tidak enak badan
- Ruam (terutama jika penyebabnya adalah mikoplasma)
- Diare (terutama jika penyebabnya adalah legionella).


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan berikut:
  • Pemeriksaan fisik secara menyeluruh
  • Rontgen dada (untuk membedakan pneumonia dari bronkitis akut maupun infeksi pernafasan lainnya)
  • Pemeriksaan darah lengkap
  • Pembiadakan darah dan dahak
  • Pemeriksaan air kemih untuk antigen legionella
  • Pemeriksaan apus tenggorokan untuk mikoplasma dan klimidia.

PENGOBATAN
Pengobatan yang utama adalah pemberian antibiotik. Pada kasus yang ringan, diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut) dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit. Pada kasus yang berat (terutama jika disebabkan oleh legionella), antibiotik mungkin perlu diberikan melalui infus dan penderita mungkin perlu mendapatkan oksigen tambahan sehingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Antibiotik yang biasa digunakan adalah:
PROGNOSIS

Jika penyebabnya mikoplasma atau klamidia, maka kebanyakan penderita akan memberikan respon yang baik terhadap pemberian antibiotik, meskipun terdapat kemungkinan kecil terjadinya kekambuhan jika antibiotik diberikan dalam waktu yang sangat pendek (kurang dari 2 minggu). Jika penyebabnya adalah legionella, akan terjadi penyakit yang berat, terutama pada usia lanjut dan penderita penyakit menahun serta penderita gangguan sistem kekebalan. Ditemukan angka kematian yang cukup tinggi.

Pneumonia Karena Hemophilus Influenzae

DEFINISI
Pneumonia Karena Hemophilus influenzae adalah peradangan paru-paru akibat Hemophilus influenzae. Hemophilus influenzae adalah bakteri, bukan virus influenza yang menyebabkan flu. Hemophilus influenzae jenis b adalah jenis yang paling mematikan dan menyebabkan penyakit yang serius, (termasuk meningitis, epiglottitis dan pneumonia), biasanya pada anak berumur kurang dari 6 tahun.

Setelah secara luas digunakan vaksin Hemophillus influenzae tipe b, maka penyakit berat yang disebabkan oleh bakteri ini jarang terjadi. Peumonia sering terjadi pada orang Amerika asli, Eskimo, kulit hitam, penderita anemia sel sabit dan penderita gangguan sistem kekebalan.


PENYEBAB
Bakteri Hemophilus influenzae.


GEJALA
Tanda-tanda adanya infeksi adalah bersin dan hidung meler, yang diikuti dengan gejala khas pneumonia seperti demam, batuk berdahak dan sesak nafas. Sering terjadi pengumpulan cairan di ruang pleura (efusi pleura).


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium (biakan dahak).


PENGOBATAN
Untuk mengobati pneumonia Hemophilus influenzae tipe b digunakan antibiotik.


PENCEGAHAN
Vaksinasi untuk Hemophilus influenzae tipe b, dianjurkan untuk diberikan kepada anak-anak. Vaksin diberikan dalam 3 dosis, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan.

Pneumonia Bakteri Gram Negatif

DEFINISI
Pneumonia Bakteri Gram Negatif adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri gram negatif. Bakteri digolongkan sebagai gram positif dan gram negatif berdasarkan pewarnaan pada sediaan mikroskop. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh pneumokokus dan stafilokokus yang merupakan bakteri gram positif. Bakteri gram negatif seperti Klebsiella dan Pseudomonas, menyebabkan pneumonia yang cenderung berat.

Bakteri gram negatif jarang menginfeksi paru-paru dewasa sehat. Bakteri ini paling sering menyerang anak-anak, orang tua, peminum alkohol dan penderita penyakit menahun (terutama penderita gangguan sistem kekebalan tubuh). Infeksi oleh bakteri gram negatif sering didapat di rumah sakit dan rumah perawatan.


PENYEBAB
Bakteri gram negatif Klebsiella dan Pseudomonas.


GEJALA
Bakteri gram negatif bisa dengan cepat merusak jaringan paru-paru, sehingga pneumonia gram negatif cenderung cepat menjadi berat.

Gejalanya berupa:
- demam
- batuk berdahak (dahaknya bisa kental, berwarna merah dan bentuknya seperti agar-agar)
- sesak nafas.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan dahak.


PENGOBATAN
Diberikan antibiotik, oksigen tambahan dan cairan infus. Kadang-kadang penderita harus menggunakan ventilator. Walaupun telah diberikan pengobatan yang baik, kematian terjadi pada sekitar 25-50% penderita pneumonia gram negatif.

Pneumonia Jamur

DEFINISI
Pneumonia Jamur adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh jamur. Kebanyakan mereka yang terinfeksi hanya akan mengalami gejala yang ringan dan tidak menyadari bahwa mereka sudah terinfeksi. Beberapa akan menderita penyakit yang berat.


PENYEBAB
Ada 3 (tiga) jenis jamur yang sering menyebabkan pneumonia:
  1. Histoplasma capsulatum, menyebabkan histoplasmosis
  2. Coccidioides immitis, menyebabkan koksidiomikosis
  3. Blastomyces dermatitidis, menyebabkan blastomikosis.
Infeksi jamur yang lainnya terjadi terutama pada penderita gangguan sistem kekebalan. Infeksi ini meliputi:
  • Kriptokokosis yang disebabkan oleh Cryptococcus neoformans
    Kriptokokosis paling sering ditemukan, bisa terjadi pada orang yang sehat tapi biasanya akan bersifat berat bila menimpa penderita gangguan sistem kekebalan seperti AIDS. Kriptokokosis bisa menyebar, terutama ke meningens (selaput otak), yang akan menyebabkan meningitis kriptokokus.
  • Aspergilosis yang disebabkan oleh Aspergillus
    Aspergillus menyebabkan infeksi paru-paru pada penderita AIDS atau seseorang yang menjalani pencangkokan organ.
  • Kandidiasis yang disebabkan oleh Candida
    Infeksi yang jarang, yaitu kandidiasis paru, sering terjadi pada seseorang dengan jumlah sel darah putih yang rendah, seperti pada penderita leukemia yang menjalani kemoterapi.
  • Mukormikosis
    Mukormikosis adalah infeksi jamur yang jarang terjadi, yang sering menyerang penderita diabetes berat atau leukemia.

Keempat penyakit tersebut terjadi di seluruh dunia dan diobati dengan obat anti-jamur, seperti itrakonazol, flukonazol dan amfoterisin B. Tetapi penderita AIDS dan gangguan sistem kekebalan tidak akan sembuh.


GEJALA
HISTOPLASMOSIS

Terjadi di seluruh dunia, tetapi lebih sering di sungai-sungai dengan suhu dan iklim tropis. Setelah terhirup, pada sebagian besar orang, jamur tidak menimbulkan gejala. Bahkan kebanyakan baru mengetahui bahwa mereka terinfeksi setelah dilakukan pemeriksaan kulit. Yang lainnya akan menderita batuk, demam, nyeri sendi, dan nyeri dada. Infeksi dapat menyebabkan pneumonia akut atau berkembang menjadi pneumonia kronis (menahun), dengan gejala yang menetap selama berbulan-bulan.

Kadang infeksi menyebar ke bagian tubuh lain,terutama sumsum tulang, hati, limpa dan saluran pencernaan. Bentuk disseminata (yang menyebar) dari penyakit ini cenderung terjadi pada penderita AIDS dan penderita gangguan sistem kekebalan.

Biasanya diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya jamur pada dahak atau dengan melakukan pemeriksaan darah untuk menemukan antibodi. Pengobatan umumnya terdiri dari obat anti jamur, seperti itrakonazol atau amfoterisin B.


KOKSIDIOIDOMIKOSIS

Secara primer terjadi pada daerah iklim setengah-gurun, terutama Amerika Serikat barat daya dan beberapa tempat di Amerika Selatan dan Amerika Serikat. Setelah terhirup, jamur mungkin tidak menimbulkan gejala atau menyebabkan pneumonia akut maupun kronis. Pada beberapa kasus, infeksi menyebar ke tempat lain selain sistem pernafasan, yaitu ke kulit, tulang, sendi dan selaput otak (meningen). Komplikasi lebih sering terjadi pada pria, terutama orang Filipina dan orang kulit hitam, penderita AIDS dan penderita gangguan sistem kekebalan lainnya.

Diagnosis ditegakkan dengan ditemukkannya jamur pada contoh dahak atau contoh dari tempat lain yang terinfeksi atau dengan melakukan pemeriksaan darah untuk menemukan antibodi. Pengobatan terdiri dari pemberian obat anti jamur seperti itrakonazol atau amfoterisin B.


BLASTOMIKOSIS

Terjadi terutama di daerah tenggara, selatan dan barat tengah Amerika Serikat dan di daerah sekita Danau Great. Setelah terhirup, jamur menyebabkan infeksi primer pada paru-paru tapi biasanya tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita akan merasakan sakit seperti flu. Kadang-kadang gejala infeksi kronis paru-paru berlangsung selama berberapa bulan. Penyakit dapat menyebar ke organ tubuh lain terutama kulit, tulang, sendi dan kelenjar prostat.

Biasanya diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya jamur pada dahak. Pengobatannya berupa pemberian obat anti jamur seperti itrakonazol atau amfoterisin B.

Psittakosis (Demam Burung Beo)

DEFINISI
Psitakosis (Demam Burung Beo) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia psittaci, yang ditularkan kepada manusia oleh burung serta menyebabkan gejala sistemik (seluruh tubuh) dan pneumonia.


PENYEBAB
Bakteri Chlamydia psittaci, yang banyak ditemukan pada burung beo, betet dan burung merpati; juga pada burung dara, kutilang, ayam dan kalkun. Biasanya seseorang terinfeksi karena menghirup debu dari bulu atau kotoran burung yang terinfeksi. Organisme ini juga bisa ditularkan melalui gigitan burung yang terinfeksi atau melalui percikan ludah penderita.

Resiko terjadinya penyakit ini ditemukan pada:
  • Orang yang memelihara burung
  • Pegawai toko hewan
  • Pekerja di tempat pengolahan unggas
  • Dokter hewan.

GEJALA
Berat ringannya penyakit tergantung kepada usia penderita dan luasnya jaringan paru-paru yang terkena.

Gejalanya berupa:
- Demam dan menggigil
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Lelah
- Batuk kering
- Sesak nafas
- Dahak berdarah.


DIAGNOSA
Pada pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, terdengar ronki dan penurunan suara pernafasan.

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
  • Rontgen dada
  • CT scan dada
  • Analisa gas darah (penurunan saturasi oksigen)
  • Pembiakan dahak
  • Pembiakan darah
  • Titer antibodi.

PENGOBATAN
Antibiotik diberikan minimal selama 10 hari. Penyembuhan mungkin akan memerlukan waktu yang lama, terutama jika kasusnya berat. Pada kasus berat yang tidak diobati, tingkat kematian dapat mencapai 30%.

Antibiotik yang biasa diberikan adalah:
PENCEGAHAN
Peternak burung dan pemilik burung dapat melindungi dirinya dengan menghindari debu dari bulu dan sangkar burung yang sakit. Importir burung diharuskan untuk mengobati burung yang sakit dengan tetracycline selama 45 hari agar organisme penyebab penyakit ini bisa dimatikan.

Pneumonia Aspirasi (Aspiration Pneumonia)

DEFINISI
Pneumonia Aspirasi (Aspiration pneumonia) adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh terhirupnya bahan-bahan ke dalam saluran pernafasan.


PENYEBAB
Partikel kecil dari mulut sering masuk ke dalam saluran pernafasan, tetapi biasanya sebelum masuk ke dalam paru-paru, akan dikeluarkan oleh mekanisme pertahanan normal atau menyebabkan peradangan maupun infeksi. Jika partikel tersebut tidak dapat dikeluarkan, bisa menyebabkan pneumonia.

Orang yang lemah, keracunan alkohol atau obat atau dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius atau karena kondisi kesehatannya, memiliki resiko untuk menderita pneumonia jenis ini. Bahkan orang normal yang menghirup sejumlah besar bahan makanan yang dimuntahkannya bisa menderita pneumonia aspirasi.


GEJALA
PNEUMONITIS KIMIA

Pneumonitis kimia terjadi bila zat yang terhirup bersifat racun terhadap paru-paru, dan masalah yang akan timbul lebih bersifat iritasi daripada infeksi. Zat yang terhirup biasanya adalah asam lambung. Yang terjadi dengan segera adalah sesak nafas dan peningkatan denyut jantung. Gejala lainnya berupa demam, dahak kemerahan dan kulit yang kebiruan karena darah yang kurang teroksigenisasi (sianosis).

Untuk menegakkan diagnosis dilakukan foto dada serta pengukuran konsentrasi oksigen dan karbondioksida dalam darah arteri. Pengobatan terdiri dari terapi oksigen dan jika perlu bisa diberikan ventilator mekanis. Bisa dilakukan pengisapan trakea untuk membersihkan saluran pernafasan dan mengeluarkan benda yang terhirup. Untuk mencegah infeksi, kadang-kadang diberikan antibiotik.

Biasanya penderita pneumonitis kimia bisa segera sembuh atau akan semakin memburuk menjadi suatu sindroma gawat pernafasan akut atau menjadi suatu infeksi bakteri. Sekitar 30-50 % pernderita meninggal.


ASPIRASI BAKTERI

Aspirasi bakteri adalah bentuk pneumonia aspirasi yang paling sering terjadi. Hal ini biasanya terjadi karena bakteri tertelan dan masuk ke dalam paru-paru.


OBSTRUKSI MEKANIK

Penyumbatan mekanik saluran pernafasan bisa disebabkan oleh terhirupnya partikel atau benda asing. Anak kecil beresiko tinggi karena sering memasukkan benda ke dalam mulutnya dan menelan mainan kecil atau bagian-bagian dari mainan. Obstruksi juga dapat terjadi pada orang dewasa, terutama jika daging terhirup pada saat makan. Jika benda menyumbat trakea, pasien tidak dapat bernafas atau bicara. Jika benda tersebut tidak dikeluarkan dengan segera penderita akan segera meninggal.

Dilakukan Manuver Heimlich, untuk mengeluarkan benda asing dan tindakan ini biasanya dapat menyelamatkan nyawa penderita. Jika benda asing tertahan di bagian yang lebih bawah dari saluran pernafasan, bisa terjadi batuk iritatif menahun dan infeksi yang berulang. Benda asing biasanya dikeluarkan dengan bronkoskopi (alat dimasukkan melalui saluran pernafasan dan benda asing dikeluarkan).

Pneumonia Virus

DEFINISI
Pneumonia Virus adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus.


PENYEBAB
Pneumonia merupakan suatu penyakit umum yang serius, yang setiap tahunnya menyerang 1 dari 100 penduduk.

Pneumonia virus bisa disebabkan oleh:
  • Virus sinsisial pernafasan
  • Hantavirus
  • Virus influenza
  • Virus parainfluenza
  • Adenovirus
  • Rhinovirus
  • Virus herpes simpleks
  • Sitomegalovirus.

Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:
- virus sinsisial pernafasan
- adenovirus
- virus parainfluenza dan
- virus influenza.

Virus campak juga dapat menyebabkan pneumonia, terutama pada anak yang mengalami kekurangan gizi. Pada orang dewasa yang sehat, penyebabnya adalah 2 jenis virus influenza, yaitu virus influenza tipe A dan tipe B. Pneumonia pada orang dewasa juga bisa disebabkan oleh virus cacar air.

Pada usia lanjut, pneumonia virus biasanya disebabkan oleh virus parainfluenza, influenza arau virus sinsisial pernafasan. Sitomegalovirus atau virus herpes simpleks bisa menyebabkan pneumonia yang berat pada penderita gangguan sistem kekebalan.


GEJALA
Gejalanya berupa:
- batuk
- sakit kepala
- kekakuan dan nyeri otot
- sesak nafas
- demam
- menggigil
- berkeringat
- lelah.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
- kulit yang lembab
- mual dan muntah
- kekakuan sendi.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan jika tidak ditemukan bakteri di dalam biakan dahak, (karena sulit untuk mengisolasi virus dalam suatu biakan).

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
  • Fiksasi komplemen
  • Rontgen dada
  • Biopsi paru terbuka (hanya dilakukan pada penyakit yang sangat serius, jika diagnosis tidak dapat ditegakkan dengan pemeriksaan lainnya).

PENGOBATAN
Tujuan pengobatan adalah memberikan terapi suportif, karena infeksi virus tidak akan memberikan respon terhadap antibiotik.

Terapi suportif terdiri dari:
- udara yang lembab
- tambahan asupan cairan
- tambahan oksigen.

Untuk mencegah dehidrasi, mungkin penderita anak-anak dan lanjut usia perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Kadang diberikan obat antivirus (misalnya ribavirin atau amantadin, untuk virus influenza tipe A), terutama pada bayi dan anak-anak. Untuk pneumonia karena virus herpes dan cacar air bisa diberikan acyclovir. Beberapa penderita akan mengalami pemulihan dalam waktu 2 minggu, tanpa meninggalkan gejala sisa.

Akibat yang fatal mungkin akan ditemukan pada:
- penderita lanjut usia
- penderita gangguan sistem kekebalan
- bayi yang menderita kelainan jantung bawaan.


PENCEGAHAN
Lanjut usia, pekerja kesehatan dan penderita penyakit menahun (misalnya emfisema, penyakit jantung dan penyakit ginjal), dianjurkan untuk menjalani vaksinasi influenza sekali setiap tahun.

Pneumonia Stafilokokus

DEFINISI
Pneumonia Stafilokokus adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus. Pneumonia jenis ini cenderung terjadi pada orang yang sangat muda, sangat tua dan orang yang sudah lemah karena mengalami penyakit lain. Juga cenderung terjadi pada peminum alkohol. Angka kematian akibat pneumonia stafilokokus adalah sebesar 15-40%, karena penderita pneumonia stafilokokus biasanya sudah memiliki penyakit yang serius.


PENYEBAB
Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus hanya menyebabkan pneumonia sebanyak 2% dari kasus yang didapat di luar rumah sakit, tetapi menyebabkan 10-15% dari kasus yang didapat di lingkungan rumah sakit ketika sedang dirawat untuk penyakit lain.


GEJALA
Stafilokokus menyebabkan gejala-gejala pneumonia yang khas, yaitu demam dan menggigil lebih lama daripada pneumonia pneumokok.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
- batuk berdahak (dahaknya bisa menyerupai lendir, berwarna kehijauan atau menyerupai nanah)
- lelah
- nyeri dada (sifatnya tajam dan semakin memburuk jika penderita menarik nafas dalam atau batuk)
- sakit kepala
- nafsu makan berkurang
- mual dan muntah
- merasa tidak enak badan
- sesak nafas
- berkeringat banyak.

Stapfilokokus bisa menyebabkan abses (pengumpulan nanah) di paru-paru dan kista paru yang mengandung udara (pneumatokel), terutama pada anak-anak. Bakteri bisa terbawa oleh aliran darah dan membentuk abses di tempat lain. Yang sering terjadi adalah pengumpulan nanah di ruang pleura (empiema).


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (pada pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi pernafasan yang abnormal.

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilkukan:
  • Rontgen dada
  • Biakan dahak
  • Pemeriksaan darah.

PENGOBATAN
Pengobatan terdiri dari pemberian antibiotik. Jika terjadi empiema, maka nanahnya bisa dikeluarkan dengan bantuan sebuah jarum atau selang.

Pneumonia (Radang Paru)

DEFINISI
Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus maupun jamur.


PENYEBAB
Penyebab pneumonia adalah:
  1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa):
    - Streptococcus pneumoniae
    - Staphylococcus aureus
    - Legionella
    - Hemophilus influenzae
  2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air)
  3. Organisme mirip bakteri: Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak-anak dan dewasa muda)
  4. Jamur tertentu.
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:
- Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar
- Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
- Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.

Beberapa orang yang rentan (mudah terkena) pneumonia adalah:
  1. Peminum alkohol
  2. Perokok
  3. Penderita diabetes
  4. Penderita gagal jantung
  5. Penderita penyakit paru obstruktif menahun
  6. Gangguan sistem kekebalan karena obat tertentu (penderita kanker, penerima organ cangkokan)
  7. Gangguan sistem kekebalan karena penyakit (penderita AIDS).
Pneumonia juga bisa terjadi setelah pembedahan (terutama pembedahan perut) atau cedera (terutama cedera dada), sebagai akibat dari dangkalnya pernafasan, gangguan terhadap kemampuan batuk dan lendir yang tertahan. Yang sering menjadi penyebabnya adalah Staphylococcus aureus, pneumokokus, Hemophilus influenzae atau kombinasi ketiganya.

Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri, yang tersering yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumococcus). Pneumonia pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae.

Pneumonia dikelompokkan berdasarkan sejumlah sistem yang berlainan. Salah satu diantaranya adalah berdasarkan cara diperolehnya, dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu "community-acquired" (diperoleh diluar institusi kesehatan) dan "hospital-acquired" (diperoleh di rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya). Pneumonia yang didapat di luar institusi kesehatan paling sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Pneumonia yang didapat di rumah sakit cenderung bersifat lebih serius karena pada saat menjalani perawatan di rumah sakit, sistem pertahanan tubuh penderita untuk melawan infeksi seringkali terganggu. Selain itu, kemungkinannya terjadinya infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah lebih besar.


GEJALA
Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah:
- batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan atau seperti nanah)
- nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk)
- menggigil
- demam
- mudah merasa lelah
- sesak nafas
- sakit kepala
- nafsu makan berkurang
- mual dan muntah
- merasa tidak enak badan
- kekakuan sendi
- kekakuan otot.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
- kulit lembab
- batuk darah
- pernafasan yang cepat
- cemas, stres, tegang
- nyeri perut.


DIAGNOSA
Pada pemeriksaan dada dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara ronki.

Pemeriksaan penunjang:
  • Rontgen dada
  • Pembiakan dahak
  • Hitung jenis darah
  • Gas darah arteri.

PENGOBATAN
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah. Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik. Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu.


PENCEGAHAN
Untuk orang-orang yang rentan terhadap pneumonia, latihan bernafas dalam dan terapi untuk membuang dahak, bisa membantu mencegah terjadinya pneumonia.

Vaksinasi bisa membantu mencegah beberapa jenis pneumonia pada anak-anak dan orang dewasa yang beresiko tinggi:
  • Vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena Streptococcus pneumoniae)
  • Vaksin flu
  • Vaksin Hib (untuk mencegah pneumonia karena Haemophilus influenzae type b).

Proteinosis Alveolar Pulmoner (Alveolar Proteinosis)

DEFINISI
Proteinosis Alveolar Pulmoner (Alveolar Proteinosis) adalah penyakit yang jarang terjadi, dimana alveoli (kantong udara di paru-paru) tersumbat oleh cairan yang kaya akan protein.


PENYEBAB
Pada beberapa kasus, penyebabnya tidak diketahui. Pada kasus lainnya, penyakit ini berhubungan dengan infeksi atau gangguan sistem kekebalan. Paling sering ditemukan pada usia 30-50 tahun dan lebih sering menyerang pria.


GEJALA
Gejalanya berupa:
- batuk
- penurunan berat badan
- lelah
- sesak nafas
- demam.

Bisa juga tanpa gejala.


DIAGNOSA
Pada pemeriksaan dengan stetoskop, terdengar ronki. Pemeriksaan fisik seringkali memberikan hasil yang normal.

Pemeriksaan penunjang:
  • Rontgen dada (bisa menunjukkan bayangan padat/tebal yang menyerupai edema paru
  • Analisa gas darah arteri (menunjukkan rendahnya kadar oksigen)
  • Tes fungsi paru (menunjukkan adanya penyakit paru restriktif dan difusi yang abnormal)
  • CT scan dada resolusi tinggi (bisa menunjukkan adanya infiltrasi padat di kedua paru)
  • Bronkoskopi disertai lavase (pembilasan paru dengan larutan garam), menunjukkan adanya cairan yang menyerupai susu

PENGOBATAN
Penderita dengan gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali, tidak memerlukan pengobatan. Bila terdapat gejala, dilakukan pembilasan paru secara periodik untuk membuang protein dari dalam paru-paru. Kadang-kadang hanya sebagian kecil paru-paru yang perlu dicuci. Tetapi jika gejalanya berat dan kadar oksigen darahnya rendah, penderita dibius total sehingga keseluruhan paru-paru dapat dibersihkan. 3-5 hari kemudian, sisi paru-paru yang lainnya dibersihkan, juga dengan pembiusan total.

Untuk sebagian penderita, pencucian cukup dilakukan 1(satu) kali, tetapi penderita lainnya perlu menjalani lavase setiap 6-12 bulan sekali selama bertahun-tahun. Kegunaan obat lain seperti kalium yodida dan enzim-enzim yang memecah protein masih belum jelas. Kortikosteroid tidak efektif dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Bila perlu, bisa dilakukan pencangkokan paru.


PROGNOSIS

Penderita proteinosis alveolar pulmoner sering mengalami sesak nafas yang tidak menentu. Tetapi penyakit ini jarang menyebabkan kematian, selama pencucian paru-paru dilakukan secara teratur. Pada beberapa kasus terjadi pemulihan spontan dan pada penderita lainnya terjadi kegagalan pernafasan yang progresif.

Radang Paru Perokok (Desquamative Interstitial Pneumonia)

DEFINISI
Desquamative interstitial pneumonia adalah peradangan paru-paru kronis yang terjadi pada perokok atau mantan perokok.


PENYEBAB
Meskipun kata ‘pneumonia’ digunakan, tidak terdapat bukti bahwa infeksi menyebabkan peradangan pada Desquamative interstitial pneumonia.


GEJALA
Kondisi ini mempengaruhi perokok di usia 30 dan 40-an, dengan kebanyakan orang menyebabkan sesak nafas bahkan dengan sedikit gerakan.


DIAGNOSA
Diagnosa Desquamative interstitial pneumonia dengan X-ray dada menunjukkan sedikit perubahan hebat daripada di idiopathic paru-paru fibrosis dan mungkin tidak memperlihatkan perubahan hingga 10% dari penderita. Tes fungsi paru-paru menunjukkan kemunduran pada banyaknya udara yanga ada di paru-paru di akhir usaha orang yang paling kuat untuk menarik nafas (maksimal inspirasi). Jumlah oksigen di sampel darah rendah.

Biopsy paru-paru seringkali diperlukan untuk memastikan diagnosa dan biasanya memperlihatkan pola khusus pada penyebaran dan peradangan paru-paru seragam. Fitur yang paling membentuk adalah kehadiran jumlah macrophages (sel yang membersihkan alveoli pada partikel dan bakteri yang terhisap) di dalam kebanyakan saluran pernafasan terkecil (bronchioles) dan alveoli.


PENGOBATAN
Sekitar 70% orang yang mengalami desquamative interstitial pneumonia bertahan hidup untuk 10 tahun atau lebih, reaksi tersebut bahkan lebih baik ketika orang tersebut berhenti merokok dan menjalani pengobatan Desquamative interstitial pneumonia dengan menggunakan kortikosteroid.

Sarkoidosis (Sarcoidosis)

DEFINISI
Sarkoidosis (Sarcoidosis) adalah suatu penyakit peradangan yang ditandai dengan terbentuknya granuloma pada kelenjar getah bening, paru-paru, hati, mata, kulit dan jaringan lainnya. Granuloma merupakan sekumpulan makrofag, limfosit dan sel-sel raksasa berinti banyak. Granuloma ini pada akhirnya akan menghilang total atau berkembang menjadi jaringan parut.


PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui. Kemungkinan penyebabnya adalah suatu respon hipersensitivitas, keturunan, infeksi maupun bahan kimia. Biasanya muncul pada usia 30-50 tahun dan sangat jarang ditemukan pada anak-anak.


GEJALA
Banyak penderita yang tidak menunjukkan gejala dan penyakitnya ditemukan pada saat menjalani pemeriksaan foto dada untuk keperluan lain. Jarang sampai terjadi gejala yang serus.

Gejala sarkoidosis bervariasi tergantung dari lokasi dan luasnya penyakit:
- merasa tidak enak badan
- demam
- sesak nafas
- batuk
- luka di kulit
- ruam kulit
- sakit kepala
- gangguan penglihatan
- perubahan neurologis
- pembesaran kelenjar getah bening (benjolan di ketiak)
- pembesaran hati
- pembesaran limpa
- mulut kering
- lelah
- penurunan berat badan.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
- pembentukan air mata berkurang
- kejang
- perdarahan hidung
- kekakuan persendian
- rambut rontok
- mata terasa pedih, gatal dan belekan.

Sarkoidosis menghasilkan peradangan di paru-paru yang akhirnya akan berkembang menjadi jaringan parut dan kista, yang akan menyebabkan batuk dan sesak nafas.

Pada 15% penderita, penyakit ini menyerang mata. Uveitis (peradangan pada struktur internal mata tertentu) menimbulkan kemerahan pada mata, nyeri dan mempengaruhi penglihatan. Peradangan yang menetap untuk waktu yang lama, akan menyumbat aliran cairan untuk mata dan menyebabkan glaukoma, yang dapat menyebabkan kebutaan. Granuloma bisa terbentuk di konjungtiva (selaput bola mata dan kelopak mata). Granuloma ini sering tidak menyebabkan gejala.

Granuloma yang terbentuk di jantung mungkin akan menyebabkan angina atau gagal jantung. Granuloma yang terbentuk di dekat sistem konduksi jantung dapat memicu terjadinya gangguan irama jantung.


DIAGNOSA
Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis sarkoidosis:
  • Hitung jenis darah
  • Tes fungsi paru (bila di paru-paru terbentuk jaringan parut, maka hasilnya akan menunjukkan bahwa jumlah udara yang dapat ditahan paru-paru berada di bawah normal)
  • Kadar enzim ACE (pada banyak penderita, kadar enzim pengubah angiotensin dalam darah adalah tinggi)
  • Rontgen dada untuk mencari adanya pembesaran kelenjar getah bening
  • Biopsi kelenjar getah bening
  • Biopsi luka di kulit
  • Bronkoskopi
  • Biopsi paru terbuka
  • Biopsi hati
  • Biopsi ginjal
  • EKG untuk mencari kelainan jantung.
  • Tes kulit tuberkulin (tuberkulosis dapat menyebabkan banyak perubahan yang mirip dengan sarkoidosis, karena itu dilakukan tes kulit tuberkulin untuk memastikan bahwa penyakitnya bukan tuberkulosis)
  • Skening galium (kadang dilakukan jika diagnosis masih meragukan, karena skening galium akan menunjukkan pola yang abnormal pada paru-paru atau kelenjar getah bening penderita)
  • Enzim hati (jika hati juga terkena, maka kadar enzim hati, terutama alkalin fosfatase mungkin meningkat).

PENGOBATAN
Gejala sarkoidosis seringkali secara perlahan akan menghilang dengan sendirinya, sehingga tidak perlu dilakukan pengobatan. Untuk menekan gejala yang berat seperti sesak nafas, nyeri sendi dan demam, diberikan corticosteroid.

Corticosteroid juga diberikan jika:
- hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kalsium darah yang tinggi
- mengenai jantung, hati atau susunan saraf
- sarkoidosis menyebabkan lesi kulit atau penyakit mata yang tidak sembuh dengan tetes mata corticosteroid
- penyakit paru-paru bertambah buruk.

Pemakaian corticosteroid dilanjutkan selama 1-2 tahun. Obat lainnya yang kadang digunakan sebagai tambahan terhadap corticosteroid adalah obat immunosupresan, seperti methotrexat, azathioprine dan cyclophosphamide.

Keberhasilan pengobatan dinilai melalui hasil pemeriksaan foto dada, tes fungsi paru dan pengukuran kalsium dan enzim ACE dalam darah. Tes ini dilakukan berulang untuk mengetahui adanya kekambuhan setelah pengobatan dihentikan. Pada kegagalan organ yang tidak dapat diperbaiki, kadang perlu dilakukan pencangkokan organ.


PROGNOSIS

Banyak penderita yang tidak mengalami penyakit yang serius dan penyakitnya bisa menghilang tanpa pengobatan. 30-50% kasus mengalami pemulihan spontan dalam waktu 3 tahun. Lebih dari 60% penderita tidak menunjukkan gejala setelah 9 tahun. Bahkan pembesaran kelenjar getah bening di dada dan peradangan paru-paru yang luas bisa hilang dalam beberapa bulan atau tahun. Lebih dari 75% penderita yang mengalami pembengkakan kelenjar getah bening, dan lebih dari 50% penderita yang paru-parunya terlibat, sembuh dalam waktu 5 tahun.

Penderita sarkodosis, yang masih terbatas di dada, lebih baik daripada mereka yang juga mempunyai sarkoidosis di tempat lain. Penderita dengan pembesaran kelenjar getah bening di dada tapi tidak menunjukkan adanya penyakit paru-paru mempunyai prognosis yang sangat baik. Mereka yang penyakitnya dimulai dengan eritema nodosum mempunyai prognosis yang terbaik.

Sekitar 50% yang pernah menderita sarkoidosis akan mengalami kekambuhan. 10% penderita mengalami kecacatan yang serius karena kerusakan pada mata, sistem pernafasan atau organ lainnya. Adanya jaringan parut pada paru-paru memicu terjadinya gagal pernafasan yang merupakan penyebab utama kematian.

Hemosiderosis Pulmoner Idiopatik

DEFINISI
Hemosiderosis Pulmoner Idiopatik (adanya zat besi di dalam paru-paru) adalah penyakit yang jarang terjadi tetapi sering berakibat fatal, dimana darah dari kapiler masuk ke dalam paru-paru.


PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak, tapi juga dapat mengenai orang dewasa. Sebagian darah yang masuk ke paru-paru akan dibersihkan oleh sel pembersih di dalam paru-paru. Hasil penguraian darah akan mengiritasi paru-paru sehingga terbentuk jaringan parut.


GEJALA
Gejala utama adalah batuk darah (hemoptisis). Frekuensi dan beratnya tergantung kepada seberapa sering kapiler bocor dan darahnya masuk ke dalam paru-paru. Setelah paru-paru menjadi jaringan parut, timbullah sesak nafas. Kehilangan banyak darah bisa memicu terjadinya anemia, sedangkan perdarahan yang hebat akan menyebabkan kematian.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya.


PENGOBATAN
Corticosteroid dan obat sitotoksik seperti azathioprine diberikan untuk membantu mengurangi peradangan. Jika terjadi kehilangan banyak darah, mungkin perlu dilakukan transfusi. Untuk mengatasi rendahnya kadar oksigen dalam darah, diberikan terapi oksigen.

Histiositosis X (Langerhans' Cell Granulomatosis)

DEFINISI
Histiositosis X (Langerhans' cell granulomatosis) adalah sekelompok kelainan (Penyakit Letterer-Siwe, Penyakit Hand-Schüller-Christian & Granuloma Eosinofilik) dimana sel-sel pembersih yang disebut histiosit dan sel sistem kekebalan lainnya yang disebut eosinofil, berkembangbiak secara abnormal, terutama di tulang dan paru-paru dan seringkali menyebabkan terbentuknya jaringan parut.

Penyakit Letterer-Siwe dimulai sebelum usia 3 tahun dan bila tidak diobati biasanya akan berakibat fatal. Kerusakan histiosit tidak hanya terjadi di paru-paru tetapi juga pada kulit, kelenjar getah bening, tulang, hati dan limpa. Bisa terjadi (pneumotoraks).

Penyakit Hand-Schüller-Christian biasanya dimulai lebih awal pada masa kanak-kanak, tetapi bisa juga muncul pada usia pertengahan. Paru-paru dan tulang adalah organ yang sering terkena. Yang lebih jarang terkena adalah kelenjar hipofisa, yang bisa menyebabkan penonjolan mata (eksoftalmos) dan diabetes insipidus (pengeluaran air kemih dalam jumlah banyak, beser) sehingga bisa terjadi dehidrasi.

Granuloma Eosinofilik cenderung terjadi antara usia 20-40 tahun. Biasanya mengenai tulang, tetapi pada 20% penderita juga mengenai paru-paru, kadang-kadang bahkan hanya paru-paru yang terkena. Jika mengenai paru-paru, gejala dapat berupa batuk, sesak nafas, demam, penurunan berat badan, tapi beberapa penderita tidak menunjukkan gejala. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumotoraks.


PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui.


GEJALA
Gejala umum yang biasa ditemukan pada penderita dewasa:
- batuk
- sesak nafas
- nyeri dada
- demam
- penurunan berat badan
- merasa tidak enak badan
- pembentukan air kemih meningkat
- banyak minum/sering merasa haus
- nyeri tulang.

Gejala yang biasa ditemukan pada anak-anak:
- gagal berkembang
- penurunan berat badan
- rewel
- demam
- dermatitis seboroik di kulit kepala
- nyeri perut
- sakit kuning
- muntah
- sering merasa haus
- sering berkemih
- bertubuh pendek
- masa puber tertunda
- kemunduran mental
- sakit kepala
- pusing
- kejang
- bola mata menonjol
- pembengkakan kelenjar getah bening
- ruam yang menyeluruh (peteki atau purpura)
- nyeri tulang (bisa ada atau tidak).


DIAGNOSA
Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita dewasa:
  • Rontgen dada
  • Bronkoskopi disertai biopsi (pada histiosit akan tampak badan X)
  • Tes fungsi paru.
Pada penderita anak-anak dilakukan pemeriksaan berikut:
  • Rontgen tulang
  • Rontgen seluruh kerangka tubuh untuk menilai beratnya kerusakan tulang
  • Biopsi tulang untuk melihat adanya sel Langerhans
  • Biopsi kulit untuk melihat adanya sel Langerhans
  • Biopsi sumsum tulang
  • Hitung jenis darah.

PENGOBATAN
Ketiga kelainan diatas dapat diobati dengan corticosteroid dan obat-obat sitotoksik, seperti cyclophosphamide. Penderita Hand-Schüller-Christian atau granuloma eosinofilik bisa sembuh spontan. Terapi untuk tulang, sama dengan pengobatan untuk tumor tulang (terapi penyinaran atau pembedahan).

Terapi suportif diberikan untuk mengatasi berbagai efek samping dari penyakit ini, yaitu berupa:
- pemberian antibiotik
- pemasangan respirator untuk membantu fungsi pernafasan
- terapi fisik
- shampo yang mengandung selenium
- terapi sulih hormon.

Kematian biasanya terjadi karena gagal pernafasan atau gagal jantung.

Fibrosis Pulmoner Idiopatik

DEFINISI
Fibrosis Pulmoner Idiopatik (Alveolitis Fibrosa, Pneumonia Interstisial Biasa) adalah pembentukan jaringan parut, penebalan dan peradangan pada jaringan paru yang penyebabnya tidak diketahui. Fibrosis paru dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, terutama yang berkaitan dengan kelainan sistem kekebalan. Walaupun banyak penyebab yang mungkin, tetapi pada 50% penderita penyebabnya tidak pernah diketahui. Orang-orang ini dikatakan menderita fibrosis paru idiopatik. Idiopatik berarti penyebabnya tidak diketahui.

Pneumonia Interstisial Deskuamativa merupakan varian dari fibrosis pulmoner idiopatik, dengan gejala-gejala yang sama, tetapi gambaran mikroskopik dari jaringan paru-parunya berbeda.

Pneumonia Interstisial Limfoid merupakan varian yang lain, yang terutama menyerang bagian bawah dari paru-paru. Sekitar sepertiga kasus terjadi pada penderita Sindroma Sjögren. Pneumonia interstisial limfoid juga dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa yang terkena infeksi HIV. Pneumonia berkembang perlahan tapi akan membentuk kista dan akan menjadi limfoma.


PENYEBAB
Fibrosis pulmoner idiopatik adalah suatu penyakit pada saluran pernafasan bagian bawah yang menyebabkan menurunnya fungsi alveolar (kantong udara) dan terbatasnya pertukaran oksigen dari udara ke darah. Di dalam jaringan paru terjadi peradangan dan penimbunan jaringan parut yang luas. Kerusakan pada jaringan paru terjadi sebagai akibat dari respon peradangan yang penyebabnya tidak diketahui. Penyakit ini paling sering ditemukan pada usia 50-70 tahun, hampir 75% penderitanya merupakan perokok sigaret.


GEJALA
Gejalanya berupa:
- sesak nafas setelah melakukan aktivitas, yang berlangsung selama beberapa bulan atau tahun; pada akhirnya sesak juga akan dirasakan pada saat penderita sedang beristirahat
- mudah lelah
- batuk, biasanya tanpa dahak
- nyeri dada (kadang-kadang).

Pada stadium lanjut, sekeliling mulut atau kuku jari tangan penderita tampak kebiruan (sianosis) karena kekurangan oksigen. Bisa ditemukan clubbing fingers (ujung jari tangan membengkak, seperti tabuh genderang/pentungan).


DIAGNOSA
Pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop menunjukkan suara pernafasan ronki kering.

Pemeriksaan penunjang lainnya:
  • Rontgen dada (bisa menunjukkan jaringan parut dan pembentukan kista di paru-paru, tetapi kadang gambarannya normal, meskipun gejalanya berat)
  • CAT scan dada resolusi tinggi
  • Tes fungsi paru (menunjukkan penurunan kemampuan paru-paru dalam menahan udara)
  • Bronkoskopi disertai biopsi paru transbronkial
  • Analisa gas darah (menunjukkan kadar oksigen yang rendah).

PENGOBATAN
Jika foto dada atau biopsi paru-paru menunjukkan jaringan parut yang tidak luas, pengobatan yang diberikan biasanya adalah corticosteroid (misalnya prednisone). Respon terhadap pengobatan kemudian dinilai melalui foto dada dan tes fungsi paru-paru. Kepada penderita yang tidak memberikan respon terhadap prednisone, bisa diberikan azathioprine atau cyclophosphamide.

Akhir-akhir ini, pemakaian interferon-gamma-1B telah memberikan hasil yang menjanjikan, tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan bahwa obat ini memang menguntungkan.

Pengobatan lain ditujukan untuk meredakan gejala-gejala, yaitu:
- Terapi oksigen untuk meningkatkan kadar oksigen darah yang rendah
- Antibiotik untuk infeksi
- Obat-obatan untuk mengatasi gagal jantung.

Kadang perlu dilakukan pencangkokan paru-paru. Pneumonia interstisial deskuamativa memberikan respon yang lebih baik terhadap terapi corticosteroid dan angka harapan hidupnya lebih besar, angka kematian lebih kecil. Pneumonia interstisial limfoid kadang bisa diatasi dengan corticosteroid. Beberapa penderita menunjukkan perbaikan terhadap pemberian kortikosteroid maupun obat sitotoksik, tetapi sebagian besar penderita mengalami penyakit yang berat meskipun telah dilakukan pengobatan. Rata-rata penderita bisa bertahan selama 5-6 tahun.

Penyakit Paru Akibat Pekerjaan

DEFINISI
Penyakit Paru Akibat Pekerjaan terjadi akibat terhirupnya partikel, kabut, uap atau gas yang berbahaya pada saat seseorang sedang bekerja. Lokasi tersangkutnya zat tersebut pada saluran pernafasan atau paru-paru dan jenis penyakit paru yang terjadi, tergantung kepada ukuran dan jenis partikel yang terhirup. Partikel yang lebih besar mungkin akan terperangkap di dalam hidung atau saluran pernafasan yang besar, tetapi partikel yang sangat kecil bisa sampai ke paru-paru.

Di dalam paru-paru, beberapa partikel dicerna dan bisa diserap ke dalam aliran darah. Partikel yang lebih padat yang tidak dapat dicerna akan dikeluarkan oleh sistem pertahanan tubuh.

Tubuh memiliki beberapa cara untuk membersihkan partikel yang terhirup:
  • Di dalam saluran pernafasan, lendir akan membungkus partikel, sehingga bisa lebih mudah dikeluarkan melalui batuk
  • Di dalam paru-paru, sel-sel pembersih tertentu, akan menelan partikel tersebut dan melenyapkannya.

Partikel yang berbeda akan menghasilkan reaksi yang berbeda pula di dalam tubuh. Beberapa partikel (misalnya serbuk tanaman) dapat menyebabkan reaksi alergi seperti rinitis alergika atau asma. Serbuk batubara, karbon dan oksida perak tidak menimbulkan reaksi yang berarti dalam paru-paru. Serbuk silika dan asbes bisa menimbulkan jaringan parut yang menetap pada jaringan paru-paru (fibrosis paru). Dalam jumlah yang cukup besar, asbes bisa menyebabkan kanker pada perokok.


PENYEBAB
Orang-orang yang memiliki resiko menderita penyakit paru akibat pekerjaan:
  1. Silikosis
    - penambang timah hitam, tembaga, perak dan emas
    - penambang batubara tertentu (misalnya peledak atap)
    - pekerja pengecoran logam
    - pembuat keramik
    - pemotong batu pasir atau granit
    - pekerja terowongan
    - pembuat alat pengampelas sabun
    - pekerja peledak pasir
  2. Paru-paru hitam, ditemukan pada pekerja batubara
  3. Asbestosis
    - pekerja yang menambang, menggiling atau mengolah asbes
    - pekerja bangunan yang memasang atau memindahkan barang-barang yang mengandung asbes
  4. Beriliosis terjadi pada pekerja ruang angkasa
  5. Pneumokoniosis jinak
    - tukang las
    - penambang besi
    - pekerja barium
    - pekerja perak
  6. Asma akibat pekerjaan terjadi pada orang-orang yang bekerja dengan:
    - gandum
    - kayu sedar merah dari daerah barat
    - kacang kastor
    - pewarna
    - antibiotik
    - damar
    - teh
    - enzim-enzim yang digunakan pada pembuatan sabun cuci, gandum dan bahan-bahan kulit
  7. Bissinosis terjadi pada pekerja yang mengolah:
    - kapas
    - rami
    - goni
    - tanaman yang menghasilkan serat dan biji-bijian
  8. Penyakit Silo filler ditemukan pada petani.

Asma Karena Pekerjaan

DEFINISI
Asma Karena Pekerjaan adalah suatu penyakit saluran pernafasan yang ditandai dengan serangan sesak nafas, bengek dan batuk, yang disebabkan oleh berbagai bahan yang ditemui di tempat kerja. Gejala-gejala tersebut biasanya timbul akibat kejang pada otot-otot yang melapisi saluran udara, sehingga saluran udara menjadi sangat sempit.


PENYEBAB
Banyak bahan (alergen, penyebab terjadinya gejala) di tempat kerja yang bisa menyebabkan asma karena pekerjaan. Yang paling sering adalah molekul protein (debu kayu, debu gandum, bulu binatang, partikel jamur) atau bahan kimia lainnya (terutama diisosianat). Angka yang pasti dari kejadian asma karena pekerjaan tidak diketahui, tetapi diduga sekitar 2-20% asma di negara industri merupakan asma karena pekerjaan.

Para pekerja yang memiliki resiko tinggi untuk menderita asma karena pekerjaan adalah;
  • Pekerja plastik
  • Pekerja logam
  • Pekerja pembakaran
  • Pekerja penggilingan
  • Pekerja pengangkut gandum
  • Pekerja laboratorium
  • Pekerja kayu
  • Pekerja di pabrik obat
  • Pekerja di pabrik deterjen.

GEJALA
Gejala biasanya timbul sesaat setelah terpapar oleh alergen dan seringkali berkurang atau menghilang jika penderita meninggalkan tempat kerjanya. Gejala seringkali semakin memburuk selama hari kerja dan membaik pada akhir minggu atau hari libur. Beberapa penderita baru mengalami gejalanya dalam waktu 12 jam setelah terpapar oleh alergen.

Gejalanya berupa:
- sesak nafas
- bengek
- batuk
- merasakan sesak di dada.


DIAGNOSA
Dalam riwayat perjalanan penyakit, biasanya penderita merasakan gejala yang semakin memburuk jika terpapar oleh alergen tertentu di lingkungan tempatnya bekerja. Pada pemeriksaan dengan stetoskop akan terdengar bunyi wheezing (bengek, mengi).

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
  • Tes fungsi paru
  • Pengukuran puncak laju aliran ekspirasi sebelum dan sesudah bekerja
  • Rontgen dada
  • Hitung jenis darah
  • Tes provokasi bronkial (untuk mengukur reaksi terhadap alergen yang dicurigai)
  • Tes darah untuk menemukan antibodi khusus.

PENGOBATAN
Pengobatan sama seperti jenis asma lainnya, yaitu diberikan bronkodilator (obat yang membuka saluran pernafasan), baik dalam bentuk obat hirup (contohnya albuterol) atau dalam bentuk tablet (contohnya theophylline). Untuk serangan yang hebat, dapat diberikan corticosteroid (misalnya prednisone) per-oral (melalui mulut) dalam jangka pendek. Untuk penanganan jangka panjang, lebih baik diberikan corticosteroid dalam bentuk hirup.


PENCEGAHAN
Industri yang menggunakan zat-zat yang dapat menyebabkan asma, harus mengkontrol debu dan udara, karena untuk menghilangkannya adalah suatu hal yang mustahil. Pekerja dengan asma yang berat, jika memungkinkan, harus mengganti pekerjaannya karena pemaparan yang terus menerus akan menjadikan asma bertambah berat dan bersifat menetap. Jika alergen/penyebabnya telah diketahui, untuk mencegah terjadinya gejala, sebaiknya penderita menghindari alergen tersebut.

Pneumonitis Kimia

DEFINISI
Pneumonitis Kimia adalah peradangan paru-paru yang terjadi akibat menghirup gas dan bahan kimia. Pneumonitis kimia akut menyebabkan edema (pembengkakan jaringan paru) serta berkurangnya kemampuan paru dalam menyerap oksigen dan membuang karbondioksida. Pada kasus yang berat, bisa terjadi kematian karena jaringan paru mengalami kekurangan oksigen (hipoksia).

Pneumonitis kimia kronis bisa terjadi setelah pemaparan sejumlah kecil bahan yang mengiritasi paru, tetapi berlangsung dalam waktu yang lama. Hal tersebut menyebabkan peradangan dan bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut (fibrosis), yang ditandai dengan menurunnya pertukaran oksigen serta kekakuan jaringan paru. Jika tidak terkendali, pada akhirnya keadaan ini bisa menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian.

Penyakit silo filler terjadi akibat menghirup udara yang mengandung nitrogen dioksida yang dihasilkan dari makanan ternak basah. Pada penyakit ini, penimbunan cairan mungkin tidak akan terjadi dalam waktu 12 jam setelah pemaparan. Penyakit silo filler mungkin akan membaik dan muncul dalam waktu 10-14 hari kemudian. Bila berulang, cenderung mengenai saluran pernafasan kecil (bronkiolus).


PENYEBAB
Berbagai bahan kimia di dalam lingkungan rumah tangga dan industri bisa menyebabkan peradangan pada paru-paru, baik yang sifatnya akut maupun kronis. Gas seperti klorin dan amonia mudah larut dan dengan segera akan mengiritasi hidung, mulut dan tenggorokan. Jika gas terhirup dalam, maka bisa sampai di bagian bawah paru-paru. Klorin merupakan gas yang sangat iritatif. Pemaparan klorin pada konsentrasi yang berbahaya bisa terjadi di rumah (klorin terdapat dalam bahan pemutih pakaian), pada kecelakaan di pabrik atau di dekat kolam renang.

Gas radioaktif yang mungkin terlepas pada suatu kecelakaaan reaktor nuklir, bisa menyebabkan kanker paru dan organ lainnya yang baru timbul bertahun-tahun kemudian. Beberapa gas (misalanya nitrogen dioksida) tidak mudah larut. Karenanya tidak akan tampak tanda-tanda awal dari pemaparan (seperti iritasi hidung dan mata) dan gas ini lebih mudah masuk ke dalam paru-paru.

Pada beberapa orang, pemaparan terhadap gas atau zat kimia dalam jangka waktu lama akan menyebabkan bronkitis kronis. Pemaparan terhadap zat kimia tertentu seperti arsen dan hidrokarbon, pada beberapa orang juga diduga menyebabkan kanker. Kanker bisa terjadi di paru-paru atau tempat lain tergantung zat yang terhirup.


GEJALA
Gejala dari pneumonitis kimia akut:
- rasa aneh di dada (seperti terbakar)
- gangguan pernafasan
- haus akan udara
- batuk
- suara pernfasan abnormal.

Gejala pada pneumonitis kronis:
- sesak nafas ketika melakukan kegiatan ringan
- takipneu (pernafasan cepat)
- dengan/tanpa batuk.

Gas terlarut seperti klorin dapat menyebabkan luka bakar pada mata, hidung, tenggorokan dan saluran pernafasan yang besar. Seringkali ditemukan hemoptisis ( batuk dan dahak yang berdarah) Muntah dan sesak nafas juga sering terjadi. Gas yang lebih sukar larut, seperti nitrogen dioksida, dalam waktu 3-4 jam setelah terhirup bisa menyebabkan sesak nafas, kadang-kadang sangat berat.


DIAGNOSA
Untuk mengetahui beratnya kerusakan paru, dilakukan pemeriksaan berikut:
  • Rontgen dada
  • Analisa gas darah
  • Tes fungsi paru.

PENGOBATAN
Pengobatan yang utama adalah pemberian oksigen. Jika kerusakan paru-parunya bersifat berat, mungkin perlu dilakukan pemasangan alat pernafasan mekanis. Diberikan obat-obatan yang membuka saluran pernafasan, cairan intravena dan antibiotik. Untuk mengurangi peradangan paru, sering diberikan corticosteroid (misalnya prednisone). Kebanyakan penderita sembuh sempurna dari kecelakaan pemaparan gas. Komplikasi paling serius adalah infeksi paru-paru.


PENCEGAHAN
Cara terbaik untuk mencegah pemaparan adalah berhat-hati saat menangani gas dan bahan kimia. Sungkup muka (masker) yang memiliki persediaan udara sendiri, harus tersedia saat terjadi kecelakaan. Petani harus mengetahui bahwa pemaparan tak sengaja dari gas beracun di gudang tempat menyimpan makanan ternak adalah berbahaya.